Ciri-ciri perusahaan Features berjangka

sebenarnya tidak sulit membedakan antara iklan pekerjaan yg benar dengan iklan perusahaan “futures” di jakarta

1. ciri yg utama ialah mereka sering menyembunyikan atau menyingkat nama perusahaan. seperti misalnya: PT. MAB (Mahadana Asta Berjangka), PT. MIF (Maxgain International Futures)
kesimpulan: berhati2lah apabila nama perusahaannya disingkat dan berakhiran dgn “F” atau “B”

2. job desc untuk iklan kerja ini gak jelas. lihat contoh2 iklan lowongan kerja di halaman 1 yg saya post, terutama utk iklan barisnya.
WARNING: IKLAN2 INI BIASANYA KERJAAN MAXGAIN!
kesimpulan: abaikan iklan2 lowongan spt ini, malah kalau anda ada waktu spam aja inboxnya dgn makian2

3. job titlenya biasanya luar biasa tinggi namun syarat masuknya fresh graduates, bahkan ibu rumah tangga. job titlenya berbau2 spt ini: Portfolio Manager, Business Manager, Business Development Officer.coba pikirin: perusahaan gila mana yg mau kasih jabatan tinggi ke anak kuliah yg baru lulus???
kesimpulan: what’s too good to be true is actually too good to be true

4. bila anda lulusan luar negeri, anda benar2 sasaran empuk perusahaan2 ini. baca thread saya dari awal dan jika ada pertanyaan pm saya untuk memastikan anda tidak terjebak.

5. Pekerjaan di jakarta pada perusahaan yg ditawarkan TANPA basic sallary, no transport allowance dsb. tapi dijanjikan anda akan dibayar dgn dollar.
kesimpulan: masa tu perusahaan bisa bayar lu pake dollar tapi ga mampu bayar gaji pokok elu? gimme a break!

6. Kalau anda sampai memutuskan untuk datang ke sebuah job interview, please… CHECK ALAMAT YG SAYA POST
kalau masih terjebak juga, well… anggap saja pengalaman yg berharga

7. biasanya selain tidak mencantumkan nama perusahaan atau bahkan alamat perusahaan, mereka akan meminta anda untuk mengirimkan CV anda ke alamat email yg ga jelas (gmail, yahoo, dsb)
intinya: perusahaan bonafide mana yg HRDnya pake email gretongan??? come on… :beer:

Be Sociable, Share!

6 thoughts on “Ciri-ciri perusahaan Features berjangka

  1. Simple Guy

    ….mmmmm..sy masih belum liat ada yang bermasalah, kecuali kalau perusahaan tersebut bilang ada gaji pokok kemudian akhirnya tidak ada barulah itu bisa dibilang penipuan

  2. bakayubi

    Tadinya saya dah nggak mau pusing2 bales komen dsini,
    “ngapain gw pikirin? itu derita lo”
    yg ga tau cara yg bener maen di bisnis ini,
    yg cuma pikirannya duit bisa jatuh dari langit tanpa harus usaha…
    -begitu lah istilahnya-
    NO! tidak seperti itu, saya aja butuh berbulan-bulan buat bisa ngerti maksud dari indikator2 grafiknya, dan berbulan-bulan berikutnya utk memahami mekanisme dan kebiasaan pasar, dsb…
    Maksud saya dsini cuma satu, saya rasa inilah yg membuat negeri kita susah maju. Pemikiran masyarakatnya masih gampang diombang-ambingkan sama paradigma2 negatif yg belum tentu benar. Gampang diprovokasi, dan akhirnya hanya memiliki mental -corporate slave- warisan Kolonial.
    Kita cuma pengen kerja, tanpa pernah berpikir gmn caranya kita bisa “menciptakan” lapangan kerja…
    Dari sini simpulkan sendiri yah,..
    *temen2 investor sukses yg lain mgkn ga akan peduli sama org2 yg berpikiran negatif thdp bisnis ini.
    (itu derita lo,bukan urusan gw)
    Tapi saya coba berbagi supaya bangsa ini bisa sedikit mengubah kebiasaan buruknya dan masyarakatnya menjadi masyarakat yg ter-edukasi secara prinsipal.
    Be Positive, Guys…!!!
    Salam Sukses

  3. i have somethin' to say

    Kalo,boleh kasi pendapat. Semua kembali ke pribadi masing-masing. Bagi yang memang berminat menggeluti bidang semacam ini, sah-sah aja si. Justru yang patut introspeksi itu para pelamar lowongan yang menyadari bahwa diriny masih miskin skill dan kecakapan, tapi maunya dapet kerja yang minim qualifikasi tapi gaji tinggi. Ya nggak bisa lah!!!

  4. Korban Valas

    INILAH ALASAN, KENAPA PERUSAHAAN VALAS DIBILANG NIPU :

    “RUMAH JUDI BERKEDOK KANTOR DAGANG”
    Semua perusahaan valas (valuta asing yang FUTURES / BERJANGKA bukan yang Money Changer ) adalah TEMPAT JUDI. Judi tebak mata uang. Modusnya merayu calon ‘nasabah’ ( baca : korban ) untuk ‘menginvestasikan’ sejumlah dana (umumnya $ 5,000 sampai $ 10,000 ) yang digunakan untuk ‘trading’ ( baca : taruhan ) dengan tawaran keuntungan yang fantastik ( lebih dari 25 % PER BULAN ! )
    Pergerakan mata uang tidak bisa diramalkan sehingga transaksinya bersifat sangat spekulatif ( judi).Berdasarkan statistik ( bisa dibuktikan dengan mengaudit perusahaan valas yang mana saja ) bahwasanya 70 % ‘nasabah’ mengalami kerugian yang tidak sedikit, bahkan nyaris ludes uangnya. Korbannya sudah mencapai tibuan orang ( atau mungkin sudah puluhan ribu ). Praktik ini sudah berlangsung belasan tahun sampai sekarang tanpa diketahui secara luas oleh masyarakat.
    Jika sudah rugi, korban tidak bisa menuntut pada siapapun, karena sudah menandatangani kontrak perjanjian yang cukup tebal, yang nyaris mustahil dibaca pada waktu menandatanganinya. Disana tercantum klausula yang menyatakan bahwa ‘nasabah’ menyadari segala resiko dan tidak bisa menuntut.
    Selain itu perusahaan juga kadang melemparkan kesalahan pada ‘trader’ ( baca : penjudi ) yang berada di luar managemen perusahaan. Para penjudi ini sebenarnya juga korban, karena mereka awalnya adalah para pencari kerja yang lugu dan tidak tahu menahu tentang hal ini. Secara rutin ( umumnya tiap 2 minggu ) mereka direkrut melalui iklan di koran, dijanjikan jadi management trainee, atau marketing ( tidak disebutkan jadi marketing apa, atau kadang disebutkan jadi marketing produk investasi ) dengan bonus yang ‘menarik’. Mereka akan dipekerjakan di suatu perusahaan ‘perdagangan internasional.
    Jadi begini, perusahaan valas ( baca : Bandar ) merekrut para pencari kerja untuk menjadi ‘marketing’
    merangkap ‘trader’. Mereka di-training selama seminggu tentang bagaimana cara bermain valas. Tanpa disadari, mereka sebenarnya dilatih main judi, tapi belum pakai uang ( istilahnya ‘mock trading’ atau ‘simulation trading’ ).
    Setelah bisa, mereka mulai digerakkan mencari ‘nasabah’ atau ‘investor’ ( baca : korban ), dengan berbekal laporan keuangan fiktif hasil latihan ( yang biasanya selalu bagus, atau bahkan ada yang menggunakan laporan keuangan yang dipalsukan ! ).
    Saat mencari ‘nasabah’, mereka menggunakan nama perusahaan ( seolah-olah mereka bagian dari managemen, tapi nanti kalau uang ‘nasabah’ sampai hilang, pihak perusahaan bisa berdalih bahwa mereka secara struktural berada di luar ‘managemen’ ), sampai ada yang menunjukkan izin operasi perusahaan segala saat presentasi, untuk menunjukkan seolah-olah perusahaannya bonafit dan uang ‘nasabah’ ditangani langsung oleh perusahaan.
    Tetapi saat ‘nasabah’ kehilangan uangnya ( statistik menunjukkan bahwa 2 dari 3 pemain valas mengalami kerugian alias kalah ), maka perusahaan melemparkan kesalahan itu pada ‘marketing’ yang bersangkutan, dikatakan bahwa uang ‘nasabah’ sepenuhnya menjadi tanggung jawab ‘marketing’, dan ‘marketing’ yang bersangkutan telah ‘lalai’ karena tidak melakukan ‘tindak penyelamatan’ saat kerugiannya masih kecil.
    Setiap transaksi ( baca : permainan ) valas, tidak peduli untung atau rugi, selalu memberikan hasil komisi ( umumnya $ 25 sampai $ 40 per lot transaksi ) kepada para ‘marketing’ atau ‘trader’. Inilah yang membuat mereka tidak kapok mencari ‘nasabah’ baru, sekalipun sudah berkali-kali merugikan ‘nasabah’ yang lama. Dan bagi para ‘nasabah’ lama yang sudah pernah meraup keuntungan besar, mereka akan kecanduan, jika uangnya hilang, mereka tidak kapok main lagi ( sungguh efek judi yang nyata, yaitu kecanduan ).
    Karena 70 % ‘nasabah’ rugi, maka dana ‘nasabah’ yang katanya dilempar ke ‘pasar internasional’ ( baca : bandar besar di luar negeri ), sebenarnya dibandari sendiri oleh perusahaan. Dari sinilah salah satu keuntungan perusahaan yang sebanarnya. Jika nasabah rugi, maka perusahaan yang untung. Wajarlah perusahaan akan berusaha supaya ‘nasabah’ tidak banyak yang untung, dengan melakukan berbagai kecurangan, diantaranya :
    1. Mempersulit ‘nasabah’ yang akan menutup / melikuidasi transaksi untung, seperti memacetkan proses transaksi dan mengatakan bahwa jaringan internet atau telepon sedang bermasalah.
    2. Menyisipkan transaksi rugi ( secara fiktif ) kedalam laporan keuangan ‘nasabah’.
    Kesaksian mengenai hal ini bisa didapat dengan mewawancarai para korban yang mengerti dan mengikuti transaksi valas.
    Perusahaan berusaha menutupi kemaksiatan mereka dengan cara :
    1. Membuat tempat operasi mereka menjadi tampak seperti kantor dagang.
    2. Mewajibkan para penjudi memakai hem dan berdasi.
    3. Menggunakan istilah-istilah dagang ke dalam setiap aktifitas mereka, seperti : trader / marketing = penjudi, investor / nasabah = korban, trading = berjudi / main valas, manager marketing = penjudi senior, principal = bandar, profit = menang.
    Perusahaan valas semuanya memiliki izin resmi. Sulit untuk menggangu gugat keberadaan mereka Mereka adalah penipu yang menjerumuskan orang lain dengan berkedok sebagai pedagang. Racun rasa madu.
    Saya percaya, hanya media yang sanggup membongkar kebobrokan dan aksi licik mereka. Mohon bantuan, tulislah liputan mengenai hal ini. Selamatkan masyarakat. Korbannya ada yang kaya sampai yang miskin. Yang miskin bisa kehilangan seluruh tabungannya dalam waktu beberapa bulan / minggu., uang satu-satunya yang didapat dengan bersusah-payah selama bertahun-tahun.

  5. Euis

    hari ini saya di interview sama Pt. Jalatama Artha Berjangka dan d sruh training nanti hr kamis,,, klo saya gk dateng training gk knp” kn?coz saya udah ngasih Cv’a k prusahaan itu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] kaskus emoticons nartzco